PILIHSEHAT.wordpress.com

Enlighten Your Life by Only Sharing the Truth

Atresia Bilier Diatasi dengan Transplantasi Hati

Posted by Ir. Adhi Hartono on 26 April 2010

Sukses Cangkok Hati Pertama di Indonesia

Meski penyelesaian terlambat dari jadwal, pencangkokan hati pertama di Indonesia untuk Ramdan Aidil Saputra (3,5) di Rumah Sakit Umum Daerah Dr Soetomo, Surabaya, Sabtu (24/4/2010), berlangsung sukses. Tim dokter akan memantau Ramdan dan pendonor—Ny Sulistyowati (43), ibu kandung Ramdan—dalam masa kritis yang diperkirakan hingga empat pekan.

Berita ini tentu saja sangat menggembirakan bagi kita semua. Masih segar dalam ingatan kita bagaimana seorang bayi yang lain bernama Bilqis Anindya Passa tak tertolong jiwanya dan meninggal pada 10 April 2010 yang baru lalu, dalam usia 19 bulan, karena sebab yang sama, yaitu Atresia Bilier (biliary atresia)

Salah satu anggota tim dokter, Vicki Sumarki, mengatakan, tim butuh waktu lama untuk memutuskan bagian mana yang harus dipotong. Tim harus memastikan pemotongan secara tepat karena bagian itu akan dipakai lagi. ”Pada resipien (Ramdan), antara lain banyak kelenjar getah bening yang harus dibersihkan dan pembuluh yang terikat jaringan parut,” kata Vicki.

Getah bening dan jaringan itu muncul karena seluruh hati Ramdan rusak. Saat diangkat, seluruh bagian hati bocah asal Tulungagung, Jawa Timur, ini sudah berwarna coklat tua. Hati sehat biasanya berwarna merah seperti darah.

Tim dokter memotong 20 persen dari hati Sulistyowati, tepatnya di bagian dua dan tiga. Bagian itu dicangkokkan kepada Ramdan. ”Volume jaringan donor sama dengan volume rata-rata hati anak seusia Ramdan. Nanti akan berkembang sesuai pertumbuhan anak. Untuk donor sendiri, diperkirakan kembali normal dalam dua hingga tiga bulan ke depan,” ujar anggota tim lainnya, Purwadi.

Proses pencangkokan diakui terlambat dari jadwal. Awalnya, operasi diperkirakan selesai pukul 15.00. Namun, tim baru selesai melepaskan hati Ramdan dan memotong jaringan hati Sulistyowati setelah pukul 14.20. Pencangkokan baru dimulai pukul 16.10. ”Untuk memotong jaringan donor, butuh sekitar lima jam. Setelah jaringan yang akan didonorkan dipotong, dokter menutup luka, lalu membawa pendonor ke ICU. Adapun resipien baru bisa ditutup setelah proses pencangkokan selesai,” ujarnya.

Saat memindahkan jaringan donor ke tubuh Ramdan, tim mengkhawatirkan perkembangan racun di jaringan donor dan hipotermia di tubuh Ramdan. Racun mungkin berkembang karena sirkulasi berhenti sehingga tidak ada pengolahan di hati yang terpotong itu.

Sementara hipotermia atau penurunan suhu tubuh karena beberapa pembuluh darah Ramdan disumbat sementara waktu. Penyumbatan dilakukan sampai pembuluh disambungkan ke jaringan donor. ”Tim senang karena dua hal itu tak terjadi,” ucap Purwadi.

Biaya Rp 2 miliar

Selanjutnya, tim akan memantau Ramdan dan Sulistyowati di ICU. Masa kritis awal akan berlangsung hingga Minggu pagi ini. Masa kritis kedua diperkirakan hingga empat pekan ke depan.

Ketua Tim Transplantasi Sjamsul Arief mengatakan, operasi itu memang butuh biaya besar. Tim antara lain harus membeli kasur khusus seharga Rp 230 juta untuk menjaga suhu tubuh Ramdan. ”Kasur datang dua hari sebelum operasi,” ujarnya.

Tim juga membutuhkan sonoclol signature seharga Rp 160 juta untuk memantau pembekuan darah. Pemantauan itu diperlukan karena hati bagian dari sistem sirkulasi darah.

Total untuk alat saja diperkirakan menghabiskan Rp 1,2 miliar. Untuk obat-obatan selama operasi dibutuhkan Rp 800 juta.

Karena itu, operasi yang berlangsung selama 13 jam itu menelan biaya Rp 2 miliar, belum termasuk biaya pascaoperasi.

Pemerintah Provinsi Jatim melalui Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf kemarin meninjau operasi itu dan menyerahkan sumbangan Rp 1,3 miliar kepada tim dokter.

Perawatan Cermat Pasca Operasi

Bagaimanapun juga, transplantasi hati yang sukses tersebut tidak bisa menjamin bahwa Ramdan akan 100% kembali sehat, tumbuh normal seperti anak-anak lainnya, dan panjang umur.

Setelah cangkok hati yang sukses, aturan perawatan dan pemberian obat-obatan yang ketat akan diterapkan untuk mencegah terjadinya reaksi penolakan oleh sistem kekebalan tubuh Ramdan terhadap hati yang baru. Para dokter juga perlu melanjutkan pemberian resep danmenu khususuntuk makanan, vitamin-vitamin, pengobatan tekanan darah, dan beberapa antibiotik.

Referensi:

Advertisements

One Response to “Atresia Bilier Diatasi dengan Transplantasi Hati”

  1. sdh said

    Semoga dengan kesuksesan yang pertama tim dokter RSUD dr. soetomo yang melakukan operasi <a href="http://liver-transplantation.blogspot.com/2010/11/liver-transplantation.html"liver transplantation, selanjutnya jangan terulang lagi menimpa ke Bilqis lainnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: